Berawal dari penggabungan Kabupaten Banyumas
dan Kabupaten Purwokerto pada 1936, maka atas prakarsa Bupati Banyumas ke 19
yaitu R.A.A Sujiman Gandasubrata (1933-1950), Pendopo Si Panji yang dahulunya
berada di Kota Lama Banyumas pada bulan Januari 1937 dipindahkan ke ibukota Kabupaten
Banyumas di Purwokerto dan diresmikan pada 7 Januari 1937.
Sejak pemindahan ini, maka Kota Lama
Banyumas hanya menjadi ibukota Kawedanan Banyumas dan sekarang menjadi ibukota
Kecamatan Banyumas. Guna mengingat bahwa keberadaan Kota Banyumas dimasa lalu dan
keberadaan Pendopo si Panji beserta
Dalem Kadipatennya, maka dibangun Pendopo Duplikat Si Panji
di lokasi awalnya.
Dalem Kadipaten Banyumas terdiri
dari
alun-alun, pintu gerbang, pendopo, longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga
sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni hingga tamansari.
Bagian dari dalem kadipaten tersebut tidak
hanya sebagai artefak sejarah
namun juga memiliki kedalaman filosofi yang didasarkan pada ajaran Jawa. Dari sudut pandang arsitektur, bangunan
Dalem Kadipaten Banyumas beserta bangunan pendukung lainnya terlihat sangat kental perpaduan antara arsitektur
tradisional Jawa dan arsitektur kolonial Belanda.
Dari sisi filosofis, Dalem Kadipaten Banyumas
mengandung ajaran kosmologi Jawa tentang kiblat papat lima pancer (empat arah
mata angin dan titik pusat imajiner yang berada di tengah-tengah). Bangunan
pendopo dikelilingi empat pintu gerbang utama. Gerbang pada sisi timur dan
barat searah dengan terbit dan tenggelamnya matahari yang menjadi simbolisasi
dari purwa, madya dan wasana yang menggambarkan kehidupan manusia di dunia dari
yang semula tidak ada, menjadi ada, dan pada saatnya akan kembali tidak ada.
Sedangkan gerbang pada sisi selatan dan utara searah dengan laut selatan dan
Gunung Slamet, mengambarkan arah privasi (Dalem Kadipaten) ke arah publik (masyarakat). Oleh karena itu, di arah depan pendopo
terdapat alun-alun yang di sisi kanannya terdapat masjid (menggambarkan sisi
kebaikan) dan di sisi kirinya terdapat penjara atau Lembaga Pemasyarakatan
(menggambarkan sisi buruk).
Kondisi
saat ini Dalem Kadipaten Banyumas tersebut dimanfaatkan sebagai Kantor
Kecamatan Banyumas dan pada beberapa bagian lainnya di manfatkan sebagai Museum
Wayang Banyumas yang diresmikan pada 31 Desember 1982. Koleksi
yang ada di
Museum Wayang Banyumas ini meliputi
wayang kulit gagrak/gaya Jogjakarta, Banyumas
(kuno, peralihan, sekarang), wayang krucil, wayang golek purwa, wayang golek
menak, wayang kidang kenacan, wayang kancil, wayang dupara, wayang beber,
wayang suket, wayang suluh, wayang Bali (akan), wayang Jawa Timuran (akan),
benda arkeologi, tosan aji/pusaka-pusaka, lukisan Bupati-Bupati Banyumas,
gamelan slendro kuno, calung Banyumas, dan foto Banyumas tempo dulu
Citra Satelit Kota Banyumas



Tidak ada komentar:
Poskan Komentar