MEDIA KOMUNIKASI & INFORMASI MENGENAI PERENCANAAN, PEMANFAATAN & PENGAWASAN TATA RUANG DI KABUPATEN BANYUMAS

Jumat, 30 November 2012

(Kota Banyumas, Kota Pusaka) Sejarah Singkat Berdirinya Kadipaten Banyumas


Kadipaten Banyumas atau yang sekarang menjadi salah satu bagian Kabupaten Banyumas berdiri tahun 1582, tepatnya pada hari Jum’at Kliwon tanggal 6 April 1582 Masehi, atau bertepatan tanggal 12 Robiul Awwal 990 Hijriyah. Keberadaan sejarah Kabupaten Banyumas tidak terlepas dari pendirinya yaitu Raden Joko Kahiman yang menjadi Bupati pertama, dikenal dengan gelar Adipati Marapat.
Riwayat singkatnya diawali dari Pemerintahan Kesultanan Pajang, dibawah pemerintahan Raja Sultan Hadiwijaya. Terjadi peristiwa kematian yang menimpa Adipati Wirasaba ke VI (Warga Utama Ke I) akibat kesalahpahaman dari Kanjeng Sultan sehingga terjadi musibah pembunuhan di Desa Bener, Kecamatan Lowano, Kabupaten Purworejo (sekarang) sewaktu Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang dari Pisowanan ke Pajang.
Adanya peristiwa tersebut, maka Sultan Pajang memamnggil putra Adipati Wirasaba untuk menebus kesalahannya namun tiada yang berani menghadap. Kemudian putra menantu salah satu diantaranya memberanikan diri menghadap, namun dengan syarat jika putra menantu tersebut mendapat murka maka akan dihadapi sendiri dan jika mendapat anugerah maka putra-putra yang lain tidak boleh iri hati. Ternyata putra menantu tersebut diberi anugerah diwisuda menjadi Adipati Wirasaba ke VII. Semenjak itulah putra menantu yaitu R Joko Kahiman menjadi Adipati dengan gelar Adipati Warga Utama II.
R Joko Kahiman adalah putra R Banyaksasro dengan ibu dari Pasir Luhur.  R Banyaksasro adalah putra R Baribin, seorang pangeran Majapahit yang karena suatu kesalahan maka menghindar ke Pajajaran yang akhirnya dijodohkan denhan Dyah Ayu Ratu Pamekas putrid Raja Pajajaran. Sedangkan Nyi Banyaksasro ibu R Joko Kahiman adalah putri Adipati Banyak Galeh (Mangkubumi II) dari Pasir Luhur, sejak kecil R Joko Kahiman diasuh oleh Kyai Sambarta dengan Nyai Ngaisah yaitu putrid R Baribin yang bungsu.
Berdasarkan sejarahnya, maka R Joko Kahiman adalah satria yang sangat luhur untuk bisa diteladani oleh segenap warga Kabupaten Banyumas khususnya karena mencerminkan sifat altruistis yaitu tidak mementingkan dirinya sendiri, merupakan pejuang pembangunan yang tangguh, tanggap dan tanggon, serta R Joko Kahiman merupakan pembangkit jiwa persatuan kesatuan (Majapahit, Galuh, Pakuan, Pajajaran) menjadi satu darah dan memberikan kesejahteraan kepada semua saudaranya.
Sekembalinya R Joko Kahiman dari Kasultanan Pajang atas kebesaran hatinya dengan seijin Kanjeng Sultan, bumi Kadipaten Wirasaba dibagi menjadi empat bagian untuk diberikan kepada iparnya, yaitu
1.       Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda
2.       Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma
3.       Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya
4.    Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dan kemudian dibangun dengan membuka hutan Mangli dan dibangun pusat pemerintahan serta diberi nama Kabupaten Banyumas.

 Alun - alun Perkotaan Banyumas 
 
Oleh karena kebijaksanaannya untuk membagi wilayah Kadipaten menjadi empat bagian untuk para iparnya, maka R Joko Kahiman dijuluki Adipati Marapat. Pada saat R Joko Kahiman (Adipati Marapat) melaksanakan babada alas untuk dijadikan sebagai dalem kadipaten, ada sebatang kayu (pohon) yang hanyut di Sungai Serayu dan terhenti tidak jauh dari lokasi pelaksanaan babad alas. Kayu tersebut adalah jenis kayu mas yang memiliki ukuran besar, maka kayu tersebut kemudian diambil dan dijadikan sebagai soko guru pendopo kadipaten. Oleh karena itu, berawal dari kata kayu mas yang hanyut di banyu (air), maka lokasi tersebut kemudian disebut Banyumas dan sebutan itu tetap hingga sekarang.
  Tembok Keliling Dalem Kadipaten Banyumas

(Kota Banyumas, Kota Pusaka) Dalem Kadipaten Banyumas


Berawal dari penggabungan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purwokerto pada 1936, maka atas prakarsa Bupati Banyumas ke 19 yaitu R.A.A Sujiman Gandasubrata (1933-1950), Pendopo Si Panji yang dahulunya berada di Kota Lama Banyumas pada bulan Januari 1937 dipindahkan ke ibukota Kabupaten Banyumas di Purwokerto dan diresmikan pada 7 Januari 1937. Sejak pemindahan ini, maka Kota Lama Banyumas hanya menjadi ibukota Kawedanan Banyumas dan sekarang menjadi ibukota Kecamatan Banyumas. Guna mengingat bahwa keberadaan Kota Banyumas dimasa lalu dan keberadaan Pendopo si Panji beserta Dalem Kadipatennya, maka dibangun Pendopo Duplikat Si Panji di lokasi awalnya.


Dalem Kadipaten Banyumas terdiri dari alun-alun, pintu gerbang, pendopo, longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni hingga tamansari. Bagian dari dalem kadipaten tersebut tidak hanya sebagai artefak sejarah namun juga memiliki kedalaman filosofi yang didasarkan pada ajaran Jawa. Dari sudut pandang arsitektur, bangunan Dalem Kadipaten Banyumas beserta bangunan pendukung lainnya terlihat sangat kental perpaduan antara arsitektur tradisional Jawa dan arsitektur kolonial Belanda.
Dari sisi filosofis, Dalem Kadipaten Banyumas mengandung ajaran kosmologi Jawa tentang kiblat papat lima pancer (empat arah mata angin dan titik pusat imajiner yang berada di tengah-tengah). Bangunan pendopo dikelilingi empat pintu gerbang utama. Gerbang pada sisi timur dan barat searah dengan terbit dan tenggelamnya matahari yang menjadi simbolisasi dari purwa, madya dan wasana yang menggambarkan kehidupan manusia di dunia dari yang semula tidak ada, menjadi ada, dan pada saatnya akan kembali tidak ada. Sedangkan gerbang pada sisi selatan dan utara searah dengan laut selatan dan Gunung Slamet, mengambarkan arah privasi (Dalem Kadipaten) ke arah publik (masyarakat). Oleh karena itu, di arah depan pendopo terdapat alun-alun yang di sisi kanannya terdapat masjid (menggambarkan sisi kebaikan) dan di sisi kirinya terdapat penjara atau Lembaga Pemasyarakatan (menggambarkan sisi buruk).


Kondisi saat ini Dalem Kadipaten Banyumas tersebut dimanfaatkan sebagai Kantor Kecamatan Banyumas dan pada beberapa bagian lainnya di manfatkan sebagai Museum Wayang Banyumas yang diresmikan pada 31 Desember 1982. Koleksi yang ada di Museum Wayang Banyumas ini meliputi wayang kulit gagrak/gaya Jogjakarta, Banyumas (kuno, peralihan, sekarang), wayang krucil, wayang golek purwa, wayang golek menak, wayang kidang kenacan, wayang kancil, wayang dupara, wayang beber, wayang suket, wayang suluh, wayang Bali (akan), wayang Jawa Timuran (akan), benda arkeologi, tosan aji/pusaka-pusaka, lukisan Bupati-Bupati Banyumas, gamelan slendro kuno, calung Banyumas, dan foto Banyumas tempo dulu

 Citra Satelit Kota Banyumas

Kamis, 22 November 2012

Sistem Informasi Penataan Ruang Kabupaten Banyumas

Data, Informasi, serta Persetujuan mengenai perencaanaan dan pemanfaatan ruang di Kabupaten Banyumas memerlukan sebuah dokumentasi yang lebih baik, dimana perbaikan kualitas manajemen (penyimpanan) data dan informasi akan sangat mempengaruhi kinerja serta pelayanan publik yang ada khususnya di bidang penataan ruang

Untuk meningkatkan manajemen data serta informasi penataan ruang maka Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam hal ini Bidang Penataan Ruang, DCKKTR Kabupaten Banyumas menyusun sebuah Sistem Informasi Penataan Ruang yang didalamnya juga menjadi jendela serta brangkas virtual berbagai data penataan ruang. Pada tahap pertama, sistem informasi ini akan dioperasikan secara internal (intranet) dan diharapkan setelah berbagai kelemahan yang ada dapat ditemukan serta diatasi maka sistem ini direncanakan akan dioperasikan dalam jaringan internet dan bisa diakses secara umum oleh masyarakat.
 
 Tampilan muka dari Sistem Informasi Penataan Ruang Kabupaten Banyumas

Keakuratan informasi yang disajikan dalam sistem ini diharapkan mampu menunjukan kehandalan dalam pengolahan dan penyajian data beserta informasi sehingga tercipta sebuah informasi maupun data yang terintegrasi serta tepat guna. Informasi yang disajikan dalam sistem ini memang dituntut mampu menginterprestasikan perencanaan, pemantauan, pemanfaatan dan evaluasi pemanfaatan ruang di Kabupaten Banyumas secara spasial.

Sistem ini juga berfungsi sebagai database untuk berbagai kebijakan perijinan pemanfaatan ruang yang termaktub dalam Advice Planning (AP).  Dengan sistem ini, berbagai perijinan penataan ruang (AP) akan lebih terstruktur dalam manajemen fillingnya serta bisa diakses secara virtual diberbagai lokasi.  Dengan model data base yang disertai dengan berbagai informasi keruangan semacam ini diharapkan prinsip kejelasan, kemudahan, performance, fleksibilitas, kecepatan serta keakuratan dalam membuat kebijakan perijinan pemanfaatan tata ruang menjadi lebih baik.

Langkah awal dalam penyusunan sistem informasi ini memang masih belum sempurna, diharapkan seiring proses trial yang berjalan di Bidang Penataan Ruang, DCKKTR Kabupaten Banyumas sistem ini bisa menjawab berbagai macam permasalahan penataan ruang yang ada.

Semoga langkah ini menjadi langkah awal dalam memeperbaiki kinerja Bidang Penataan Ruang khususnya dalam manajemen informasi dan database.

Selasa, 13 November 2012

Pedestrian Baru di Jalan Wiraatmaja, Purwokerto

Perbaikan / rehabilitasi Jalan Jalan Wiryaatmaja akan dilaksanakan dalam 5 bulan atau 150 hari kerja dengan APBD Kabupaten Banyumas Tahun 2012 dengan target rehabilitasi trotoar pada sisi barat jalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan tepat waktu walau dalam 2 bulan terakhir ini ada sedikit kendala cuaca.

Kendala cuaca dengan mulainya musim penghujan memang agar sedikit mempengaruhi pekerjaan fisik pedestrian ini, tetapi disisi lain musim penghujan juga memberikan keuntungan dalam kegiataan ini dari tinjuan pemajaan tanaman peneduh. 
Tanaman peneduh yang berupa kayu hitam (Diospyros celebica) dengan tinggi rata - rata 3 meter mendapatkan pasokan air secara alamiah dan kontinyu dalam musim penghujan ini, sehingga diharapkan pertumbuhan pohon tersebut bisa tumbuh sesuai rencana.
Kayu hitam ini merupakan salah satu jenis tumbuhan asli dari Indonesia (sulawesi) yang sudah ditetapkan sebagai salah satu jenis tumbuhan yang tergolong rentan (vulnerable ) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dan masuk apendiks 2 (terancam punah) menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).
Aspek ancaman kepunahan menjadi salah satu aspek pemilihan tanaman ini sebagai peneduh di Pedestrian Jalan Wiraatmaja, Purwokerto selain faktor kerimbunan daun yang juga merupakan salah satu faktor penting lainnya.

Kayu Hitam, tanaman peneduh pedestrian baru Jl. Wiraatmaja, Perkotaan Purwokerto  

Trotoar/pedestrian jalan Wiraatmaja atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Bank diharapkan mampu berfungsi sebagai jalur pejalan kaki yang mampu menjamin keamanan dan kenyamanan pejalan kaki yang menggunakannya.
Aspek keamanan disajikan dengan membangun jalur pedestrian lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan dan Aspek kenyamanan disajikan dengan membangun pedestrian yang tidak licin, nyaman untuk dilalaui pejalan kaki serta dipenuhi dengan tanaman peneduh.


Pedestrian baru Jl. Wiraatmaja, Perkotaan Purwokerto (sebelah musium BRI)

Semoga pembangunan pedestrian ini memberikan dampat positif terhadap perkembangan Jl Wiraatmaja dan Perkotaan Purwokerto secara umum.

Kamis, 08 November 2012

Inspirasi Keceriaan Alam Pada Musim Penghujan di DCKKTR Kabupaten Banyumas

 Capung di halaman belakang DCKKTR Kabupaten Banyumas

Musim penghujan merupakan sebuah kenikmatan yang tiada dua dalam kehidupan dan penghidupan mahluk hidup yang ada alam ini. 

Menjadi ambigu saat musim penghujan hanya dihubungkan dengan berbagai macam permasalah penataan ruang seperti banjir, tanah longsor, dan lainnya. 
Apakah permasalahan di musim penghujan merupakan teguran Tuhan dengan bahasa alam ?
Apakah permasalahan di musim penghujan merupakan teguran atas kesalahan penataan ruang ?
Ataukah sebenarnya permasalah - permasalah itu hanya bagian kecil dari nikmat Tuhan agar kita mengingat adanya triliunan kenikmatan yang kadang kita melupakan. 
Seharusnya kita menyadari bahwa musim penghujan merupakan yang penuh dengan limpahan nikmat dari Tuhan, betapa tidak !! Walau adanya berbagai permasalah di musim penghujan ini, limpahan nikmat Tuhan terlihat jelas di mata kita.
Sayang kita sering tidak menyadarinya.
Perkantoran Dinas Cipta Karya, Kebersihan, dan Tata Ruang membuktikan bahwa nikmat di musim penghujan itu dinikmati oleh segenap penghuni alam dari burung, kupu - kupu, capung, bunga, buah matoa, maupun lainnya. Semua memperlihatkan keceriaan.

Inilah seharusnya yang juga menjadi filosofi penataan ruang, "menciptakan keceriaan bagi segenap penghuninya" seperti keceriaan alam di perkantoran DCKKTR pada musim penghujan.
Bunga yang mekar di belakang mushola kantor DCKKTR Kabupaten Banyumas

Bunga yang mekar di halaman depan kantor DCKKTR Kabupaten Banyumas

Keceriaan alam di sekitar halaman Kantor DCKKTR Kabupaten Banyumas menjadi sebuah pembelajaran sekaligus inspirasi bagi segenap PNS di kantor ini mengenai menyongsong keberkahan Tuhan di akhir tahun.
Walaupun akhir tahun berarti overjobs bagi segenap insan di DCKKTR Kabupaten Banyumas, dimana semua kegiatan (proyek) harus kejar tayang dengan tujuan utama agar semua bisa selesai di akhir tahun anggaran, tetapi semestinya musim penghujan bukan merupakan sebuah penghalang agar semua pekerjaan bisa selesai dengan baik.
Semestinya musim penghujan menjadi musim menyongsong berkah dari Tuhan
 
Khusus untuk bidang penataan ruang yang juga sedang mengejar penyelesain beberapa Rencana Detail Tata Ruang, inspirasi dari beberapa hewan yang tersenyum ceria di musim penghujan semestinya menjadi kekuatan tersendiri dalam penyelesaian dokumen - dokumen tata ruang tersebut agar bisa selesai tepat waktu dan membuat masyarakat Kabupaten Banyumas tersenyum ceria juga.
Burung Gereja di halaman depan kantor DCKKTR Kabupaten Banyumas
 Burung Emprit di depan Mushola DCKKTR Kabupaten Banyumas
Dan pada akhirnya selalu ada harapan agar apa yang dikerjakan selama setahun ini, khususnya Bidang Penataan Ruang Kabupaten Banyumas muncul buah yang bisa dinikmati dan dipetik oleh semua pihak di Kabupaten Banyumas. Buah tersebut diharapkan juga menjadi sebuah tenaga baru dalam usaha membangun Kabupaten Banyumas yang lebih baik.
Terkadang buah tersebut memang tidak selalu terlihat menarik jika dilihat dari sisi luar, tetapi manis saat kulitnya sudah di kupas. Begitu Juga dengan dokumen - dokumen penataan ruang, terkadang memang kurang menarik jika dilihat sekilas tetapi semoga manis pada saat dokumen - dokumen tersebut di implementasikan di lapangan.

Inspirasi Keceriaan Alam Pada Musim Penghujan di DCKKTR Kabupaten Banyumas Untuk Penataan Ruang Yang Lebih Baik

Buah Matoa di depan Mushola DCKKTR Kabupaten Banyumas

Senin, 05 November 2012

LORONG HIJAU PERKOTAAN PURWOKERTO


 Koridor Jl. Ahmad Yani, Purwokerto

Seiring pencanangan Program Pengembangan Kota Hijau dan komitmen daerah untuk menciptakan Perkotaan Purwokerto yang nyaman serta lebih baik dari berbagai sudut pandang, salah satu hal yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas adalah penghijauan yang dilakukan diberbagai titik di Perkotaan Purwokerto.
Penghijauan ini diharapkan mampu menciptakan iklim mikro yang lebih sehat bagi lingkungan sekitarnya sekaligus diharapkan mampu menjadi salah satu solusi dari berbagai krisis perkotaan yang ada seperti banjir, penurunan kualitas air tanah, penurunan kualitas udara perkotaan dan lainnya.

Selain dalam solusi dari berbagai macam permasalah Perkotaan Purwokerto, penghijauan ini diharapkan mampu mempercantik Perkotaan Purwokerto dari sudut pandang landscape perkotaan. Penghijauan yang sudah berjalan selama ini telah menciptakan beberapa fenomena arsitektural perkotaan yang disusun dari unsur pohon dengan lingkungan sekitar yang ada. Fenomena tersebut antara lain adanya "Lorong Hijau" di Perkotaan Purwokerto  

"Lorong Hijau" di Perkotaan Purwokerto ini adalah suatu bentang lanscape pada suatu jalan/pedestrian yang kanan dan kiri dari landscape tersebut dibatasi oleh pohon - pohon sejenis yang sejajar membentuk sebuah lorong dan pada bagian atasnya (kanopi) tertutup oleh rerimbunan daun pepohonan tersebut. Beberapa lokasi "Lorong Hijau" tersebut antara lain


1. JL. DOKTER ANGKA dengan pohon utama Pohon Flamboyan


2. TAMAN SATRIA, PAMIJEN dengan pohon utama Pohon Angsana


Kedepan diharapkan semakin banyak lorong - lorong hijau di Perkotaan Purwokerto yang mampu dibentuk dan dimanfaatkan oleh masyarakat.